Perjalanan Ke Sulawesi Selatan (Part 2)

.Halloo... long time no see, apa kabar kalian? Semoga tetap baik dan sehat selalu dalam melewati waktu yang terus berjalan. Aamiin... 

Ehmm.. sebenarnya ini bukanlah kali kedua kami pergi ke Sulawesi Selatan, tapi hanya ingin melanjutkan part sebelumnya yang lama tertunda. Hehe... so sorry, I really very busy and lazy.😆

Oke, kalau part sebelumnya kami ceritakan tentang perjalanan kami ke Toraja. Kali ini kami akan menceritakan gimana serunya perjalanan kami ke Tanjung Bira, Bulukumba. Here we go... wusshh



Setiba di Kota Makassar dari perjalanan kami ke Toraja, Shubuh itu kami berjalan kaki untuk mencari masjid terdekat dari permberhentian bus PO Metro Permai, bus yang kami naiki menuju Makassar. Jalanan masih sangat sepi, lampu di sepanjang jalan pun masih setia menyala, menemani ayunan kaki kami menuju masjid terdekat. Selain akan menunaikan Sholat Shubuh, kami juga berencana bersih-bersih diri sebelum tancap gas menuju Bulukumba. 

Kami tidak menemukan Masjid besar di sepanjang jalan raya, yang mengharuskan kami mencari masjid di pemukiman yang kami lewati. Sebuah gang yang hanya motor dapat melintas adalah masjid tempat kami santai sejenak kala itu  bertegur sapa dengan warga lokal, meluruskan punggung dan kaki kami selepas jalan kaki yang cukup jauh. Sekilas tampak melelahkan tapi kini justru hal itulah yang kami rindukan.😌 

Kami melanjutkan perjalanan dengan naik taksi online dari gang terdekat dengan masjid tempat kami berserah diri untuk kemudian sewa motor yang sudah kami booked sebelumnya. Ohya di Makassar untuk sewa motor hanya bisa diambil langsung di lokasi rental motor ya, rata-rata seperti itu dan pastikan sebelum booked motor/mobil tanyakan ke pihak rental apa bisa kendaraan yang kita sewa dibawa ke Bulukumba? Karena ada beberapa rental yang tidak mengijinkan unit kendaraannya dibawa ke Bulukumba. Kenapa? Yup betul, jarak tempuh dari Makassar ke Tanjung Bira kurang lebih 184 km atau dengan waktu tempuh kurang lebih 5-8 Jam perjalanan darat. Wow..😭

Setiba di lokasi rental motor, pihak rental selalu bertanya, "yakin Kak? Jauh loh..." kami jawab dengan penuh yakin, bayangan kami di maps jaraknya cuma sekian. Hikss, efek kepedean ya gini...😂

Setelah proses administrasi rental motor selesai, kami pergi sarapan Coto Makassar sekaligus isi BBM motor kami. Perjalanan itu tidak pernah terbayang dalam pikiran kami akan sejauh dan selama itu. Hahahaha... Kami bergantian boncengan agar tidak terlalu capek, kadang kami berhenti di minimarket/warung untuk beli minuman sekaligus meluruskan kaki maupun sekedar menghilangkan rasa kantuk dan bosan. Waktu menunjukkan Jam 11.30 WITA pun kami belum sampai Bulukumba. Jika diingat kembali, rasanya kami terlalu nekat dan menentang rasa lelah raga kami. 



Kami melanjutkan perjalanan sembari menikmati pemandangan yang disuguhkan sepanjang perjalanan, sampai masuk gapura "Selamat Datang di Bulukumba" rasanya kami lega. Eitss... tidak semudah itu kawan.😆 

Dari gapura Bulukumba ternyata cukup jauh untuk menuju ke Tanjung Bira. Maps kami arahkan langsung ke penginapan kami bermalam yaitu Woywoy Paradise. Woywoy Paradise dekat dengan pelabuhan jika kita ingin melanjutkan perjalanan ke Kepulauan Selayar maupun ke Provinsi lain.

Mendekati tempat penginapan, jalanan tidaklah mulus, masih makadam dan hampir saja kami tersesat. Setiba di Woywoy Paradise, rasa lelah itu terbayar tuntas. Hotel yang menghadap langsung ke laut biru, angin berhembus sejuk menyegarkan kalbu, degradasi warna laut menenangkan mata batinmu, berbisik lirih penuh syukur kepada Allah Azza Wajalla, Alhamdulillah Ia memberikan kami kesempatan menginjakkan kaki ke ciptaanNya yang indah ini. Rasa haru, hati berdegup kencang bukan karena kami jatuh cinta pada makhluk ciptaanNya tapi rasa syukur yang timbul dalam hati, perasaan bahagia yang tidak tergambarkan dengan kalimat. Wonderful Indonesia, lestari alamku, lestarilah Negeriku, Negeri yang kita cintai sampai menutup mata kelak. Hiks..

Santai sejenak di hotel, bersih-bersih diri, sholat, sambil mempersiapkan menuju destinasi wisata yang ada di Tanjung Bira. Sorenya kami bergegas menuju ke Titik 0 KM Sulawesi Selatan dan menikmati sunset di Pantai Bira. Subhaanallahu Walhamdulillah... ketenangan ini janganlah cepat berlalu Yaa Rabb...




Menikmati senja di Pantai Bira, setelah kami puas menikmati view dari titik 0 KM Sulawesi Selatan kami lanjut ke Pantai Bira yang letaknya tidak jauh dari titik 0 KM. Kami menyantap mie instan dengan seduh, minum es kelapa muda yang biasa kami pesan jika kami sedang ke pantai adalah seperti ritual dalam perjalanan kami yang belum tentu bisa kami lakukan dalam keseharian. Kami di Pantai Bira sampai selesai Maghrib, kemudian kami cari makan malam searah dengan hotel tempat kami menginap lalu istirahat, untuk melanjutkan aktivitas keesokan Harinya.

Pagi sekali, kami cabut dari hotel untuk hunting sunrise, dan menuju Tebing Appalarang.








Sebelum ke Tebing Appalarang, kami hunting sunrise di dekat lokasi Pantai Bira. Meskipun sunrise yang kami dapatkan tidak sempurna karena mendung dan pasca hujan turun, Alhamdulillah kami dapat momentum pelangi di Pagi itu. Karena kami akan balik ke Makassar siangnya, kami bergegas menuju Tebing Appalarang yang tidak kalah elok pemandangannya. Jalanan yang tidak mudah, tidak menghalangi semangat kami hunting Tebing Appalarang, dan lagi-lagi alam berpihak pada kami. Meskipun Paginya sempat hujan, setelahnya matahari pun nampak yang membuat degradasi warna laut begitu indah di mata. Bukanlah fatamorgana yang kami lihat adalah kenyataan kekayaan Negeri ini yang Allah amanahkan pada kita seluruh warga Indonesia.💟

Alhamdulillah... kami lega cuaca kembali cerah saat kami tiba di destinasi wisata, seakan itu adalah obat dari rasa lelah kami. Kami kembali ke hotel sembari menunggu waktu check out, kemi menikmati view yang ada di depan Woywoy Paradise. Hati terasa berat untuk kembali ke Kota Makassar, tapi kami sadar waktu yang berbatas untuk melanjutkan hidup. See you again Bulukumba...

Siangnya kami on the way menuju ke Makassar, agak macet ketika kami akan memasuki wilayah kota. Dengan waktu tempuh kurang lebih 7 Jam perjalanan, akhirnya kami tiba di hotel tempat kami menginap di Makassar. Hotel kami dekat dengan Pantai Losari, karena lelah dalam perjalanan panjang, kami memutuskan untuk tidak kemana-mana kecuali cari makan malam di sekitaran Losari.





Malam itu, tema kami adalah wisata kuliner. Mencicipi masakan khas Makassar, sekedar nongkrong makan jagung bakar menikmati malam di Losari. Waktu terasa cepat, alarm kami untuk kembali ke Surabaya. Keesokan Paginya, kami keliling cari sarapan tidak jauh dari hotel. Kemudian kami check out dan mengembalikan motor yang kami sewa. Menuju Bandara Sultan Hasanuddin, kami naik taksi online dari lokasi rental motor. Sampai akhirnya kami flight to Surabaya. Sayonara.. 



Banyak orang mengira kalau kita suka trip/traveling itu menandakan kita banyak uang. Bagian ini kita Aamiinkan saja. Tapi makna dari trip itu sendiri lebih beragam dan lebih berkesan. Seperti kita yang mungkin saja lelah dengan kehidupan, jenuh dengan rutinitas, merasa tidak dihargai, atau mungkin merasa yang kita kerjakan percuma. Percayalah, jauh disana mungkin lebih banyak orang yang kurang beruntung daripada kita, orang yang menahan haus dan lapar, orang yang berupaya mencari pekerjaan untuk menyambungkan hidup. Bukan bagaimana perjalanan kita atau seberapa jauh perjalanan kita, tapi tentang bagaimana kita mensyukuri kehidupan menjadi bagian dari perjalanan ini?
Enjoy your way, everything gonna be okay...

See you on next trip... catatan ini semoga bermanfaat dan menjadi inspirasi untuk kita agar tidak lelah dalam mengejar impian. More details bisa DM atau komentar ya guys... thank you and be happy.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perjalanan Ke Sulawesi Selatan (Part 1)

Perjalanan Ke Kebumen Dari Surabaya